Rabu, 11 November 2020

Meneladani Para Pejuang untuk Memajukan Universitas Jember

 

Nama : SOFI LAILATUL ZAHRO

NIM   : 180110301029

Tugas : Review Webinar Sarasehan Lintas Generasi

 

“Meneladani Para Pejuang untuk Memajukan Universitas Jember”

Universitas Jember adalah salah satu perguruan tinggi negeri yang terletak di Kota Jember, Provinsi Jawa Timur.

Sejarah Universitas Jember berasal dari gagasan dr. R. Achmad  bersama-sama dengan R. Th. Soengedi dan R. M. Soerachman yang bercita-cita mendirikan perguruan tinggi di Jember. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, pada tanggal 1 April 1957 ketiganya membentuk panitia yang diberi nama Panitia Triumviraat dengan komposisi Ketua dr. R. Achmad, Penulis R. Th. Soengedi, dan Bendahara R. M. Soerachman. Kemudian Panitia Triumviraat ini pada tanggal 5 Oktober 1957 membentuk yayasan dengan nama Yayasan Universitas Tawang Alun dengan fakultas awal yaitu fakultas hukum . Yayasan Universitas Tawang Alun inilah yang kemudian mendirikan Universitas Swasta di Jember dengan nama Universitas Tawang Alun yang kemudian disingkat UNITA. Dalam perjalanannya, ketiga tokoh tersebut mendapatkan dukungan penuh oleh Bupati Jember yaitu R. Soedjarwo. Pada tanggal 18 Agustus 1958 mulai membangun gedung kampus UNITA di Jln, Muhammad Soerdi yang menjadi cikal bakal.

Pada tahun 1959 tepatnya pada tanggal 26 Januari 1959, R. Soedjarwo diangkat sebagai Ketua Yayasan UNITA. Secara kebetulan, pada periode 1957 sampai dengan 1964, R. Soedjarwo juga menjabat sebagai Ketua DPRD Swatantra. Pada saat menjabat  sebagai Bupati Jember waktu itu,  R. Soedjarwo mempunyai perhatian cukup besar terhadap pembangunan pendidikan di Kabupaten Jember. Mengingat bahwa anggaran pemerintah saat itu masih sangat terbatas maka, untuk menunjang bidang pendidikan, R. Soedjarwo bersama  tokoh-tokoh masyarakat lainnya


 kemudian mendirikan Yayasan Pendidikan Kabupaten Jember (YPKD) dengan menggali dana dari masyarakat untuk menunjang dunia pendidikan. Salah satu cara yang unik dalam mengumpulkan dana, R. Soedjarwo minta sumbangan dari masyarakat Kabupaten Jember berupa barang-barang bekas seperti botol kosong, kelapa dan lainnya untuk dijual kembali. Kemudian dananya dipergunakan untuk membantu UNITA  dan sekolah-sekolah yang lain. Pada tahun 1960 satu - persatu fakultas bertambah, yaitu Fakultas Sosial Politik, FKIP , Fakultas Kedokteran dan Fakultas Pertanian.

Kampus Universitas Jember di Tegal Boto, sebenarnya sudah diimpikan R. Soedjarwo. Saat itu tahun 1961, Tegal Boto masih berupa daerah terpencil dan tidak bisa dijangkau transportasi darat. Untuk membuka daerah tersebut, R. Soedjarwo mulai membangun jembatan di jalan PB Sudirman arah ke Jalan Mastrip pada 1961. Jembatan tersebut baru selesai pada tahun 1976 dan hingga kini dikenal sebagai Jembatan Jarwo.

 Perjuangan UNITA secara efektif masih dimulai tahun 1961 dimana R. Soedjarwo mengirim beberapa delegasi ke Jakarta. Untuk menyongsong rencana tersebut, Yayasan UNITA kemudian mengirim kembali delegasinya pada 14 - 24 Maret 1962. Namun di luar dugaan, telah terjadi pergantian Menteri PTIP, yaitu Prof. Dr. Ir. Thoyib Hadiwidjaja yang mempunyai kebijakan baru bahwa tidak membenarkan penegerian dua universitas dalam satu provinsi secara bersamaan. Akibat penundaan penegerian UNITA  tersebut, UNITA akhirnya diintegrasikan dengan Universitas Brawidjaya Malang menjadi Universitas Brawidjaya cabang Jember, pada tanggal 5 Januari 1963. Hal ini menimbulkan keresahan bagi masyarakat Jember dan mahasiswa UNITA  khususnya. Melihat hambatan tersebut R. Soedjarwo terus berusaha dengan mengirim delegasi ke Jakarta hingga mendapatkan dukungan dari DPRD untuk mendesak pemerintah pusat, yang mana untuk menegerikan UNITA  menjadi universitas negeri secepatnya yaitu Unej. Berdasarkan SK Mentri PPT Nomer. 151, pada tanggal 9 November 1964 resmi menjadi  Universitas Negeri Jember.

Awal berdirinya pada tahun 1964, Universitas Negeri Djember yang disingkat UNED, memiliki lima fakultas, yang terdiri dari Fakultas Hukum di Jember, dengan cabangnya di Banyuwangi, Fakultas Sosial dan Politik dan Fakultas Pertanian di Jember, Fakultas Ekonomi dan Fakultas Sastra di Banyuwangi. Dengan rektor pertama dijabat oleh dr. R. Achmad Soejarwoe kemudian dengan perbaikan susunan kata dari ejaan lama  ke ejaan yang disempurnakan, Universitas Negeri Djember berubah nama menjadi Universitas Negeri Jember dengan singkatan UNEJ. Dari situlah nama UNEJ berasal, walaupun saat ini kata "Negeri" dihilangkan sehingga menjadi Universitas Jember, nama UNEJ sudah telanjur melekat dikalangan masyarakat sekitar.

 

Kepemimpinan rektor pertama UNEJ dr. R. Achmad dilanjutkan oleh Letkol Soedi Harjohoedojo (1967-1969), Letkol Soetardjo, SH (1969-1978) dan Kolonel Drs. H.R. Warsito (1978-1986). Kemudian Prof. Dr. Simanhadi Widyaprakosa (1986 - 1995), Prof. Dr. Kabul Santoso, M.S. (1995 - 2003), Dr. Ir. T. Sutikto, M.Sc. (2003 - 2012), Drs. Moh. Hasan, M.Sc., Ph.D. (2012 -2020), dan Dr. Ir. Iwan Taruna, M.Eng. (2020 sampai sekarang) dengan memiliki 4 cabang. Perjalanan sejarah para pejuang yang panjang yang membuahkan hasil yang tidak sia – sia, semoga menjadi Universitas kebangsaan yang lebih mencetak generasi yang menguntungkan bangsa negara dan agama.

 

Sabtu, 31 Oktober 2020

REVIEW SEJARAH PEDESAAN

 

NAMA  : SOFI LAILATUL ZAHRO

NIM        : 180110301029

REVIEW MATERI 

Pada abad 16-18 ada konsep tata kota zaman Hindu-Budha, zaman Islam, zaman kolonial dan modern Di pojokan alun-alun pada zaman modern ditambah lapas. Smith dan Zopf mengemukakan pendapat tentang pola pemukiman, menurut mereka pola pemukiman berkaitan dengan hubungan-hubungan keruangan (spatial) antara pemukiman penduduk desa yang satu dengan yang lain dan dengan lahan pertanian mereka. Paul H. Landis menggambarkan adanya empat tipe pola pemukiman, yaitu :

1.      Mengelompok murni

2.      Mengelompok tidak murni

3.      Menyebar teratur

4.      Menyebar tidak teratur.

Struktur Biososial adalah struktur sosial yaitu vertikal dan horizontal berkaitan dengan faktor-faktor biologis faktor biologis seperti profil desa, usia, perkawinan, suku bangsa dan lainnya. Keterkaitan antara faktor biologis dan struktur sosial diperlihatkan melalui sifat mata pencaharian,dari nomaden kemudian menetap. Terjadilah pembagian pekerjaan secara seksual, seperti pembagian pekerjaan bahwa kalau laki-laki itu di luar rumah kalau perempuan di dalam rumah. Jenis kelamin usia suku bangsa itu terkait juga dengan mata pencaharian kemudian tenaga fisik menjadi faktor dominan sehingga orang yang lebih tua dan orang yang secara fisik lebih kuat itu biasanya adalah laki-laki daripada perempuan akan mendapatkan kedudukan yang tinggi.

Struktur Sosial Vertikal yaitu stratifikasi atau pelapisan sosial adalah merupakan gambaran dari kelompok-kelompok sosial dalam susunan hierarki, untuk mengenalinya digunakan lambang struktur atau satu simbol yang diperoleh dari benda yang menjadi pertanda dari suatu lapisan social. Contoh adalah kekayaan pendidikan keturunan itu dianggap mempunyai nilai lebih di masyarakat. Struktur sosial vertikal itu adalah aplikasi masa yang sifatnya adalah simbol-simbol yang dianggap sebagai sebagai apa itu urusan duniawi seperti, kekayaan, gaya hidup, pendidikan, keturunan.

Klasifikasi penduduk jawa menurut Sutardjo Kartohadikoesoemo penduduk desa Jawa menjadi beberapa lapisan sosial berdasarkan faktor pemilikan/penguasaan lahan pertanian, yaitu:

1.      Warga desa yang memiliki lahan pertanian, rumah, dan tanah pekarangan 

2.      Warga desa yang punya rumah dan tanah pekarangan  

3.      Warga desa yang punya rumah di atas pekarangan orang lain 

4.      Warga desa yang menikah dan mondok di rumah orang lain 

5.      Pemuda yang belum menikah .

Struktur Stratifikasi masyarakat yang tinggi yaitu tuan tanah di Jawa khususnya di Indonesia pada umumnya itu berbeda dengan konsep tuan tanah yang ada di Eropa di barat. Karena kepemilikan tanah di desa itu yang tanahnya dari keturunan, sedangkan tuan tanah itu tanah luas itu diperoleh dari jual beli tanah mengumpulkan sebagai modal, yang disebut sebagai inovasi pertanian.

Pelapisan Masyarakat Desa menurut Smith dan Zopf :

 1. Luas atau sempit kepemilikan penguasaan tanah

2. Adanya pihak lain diluar sektor pertanian

3. Sisi persewaan atau penguasaan tanah

4. Sifat pekerjaan Struktur Sosial Horizontal merupakan gambaran mengenai keberagaman pengelompokan sosial dalam masyarakat.

Secara umum masyarakat desa merupakan komunitas yang kecil sehingga antara orang yang satu dengan lainnya terdapat kemungkinan yang besar untuk saling berhubungan secara langsung dan saling mengenal secara pribadi kenapa karena keturunan. Biasanya seperti itu Jadi untuk saling mengenal ya kemungkinannya lebih besar kemungkinan besar untuk saling berhubungan dan secara langsung mengenal secara pribadi itu yang disebut dengan konsep sosiologi disebut hubungan primer kelompoknya disebut kelompok primer. Kelompok primer atau yang utama dalam masyarakat adalah keluarga, ketetanggaan, komunitas. Keluarga itu merupakan kelompok sosial yang mempunyai peran dan pengaruh yang paling dominan.

Pola kehidupan masyarakat desa yaitu pola kebudayaan masyarakat desa terhadap berbagai definisi tentang kebudayaan antara lain yaitu way of life yaitu way of thinking kedua way of feeling, dan way of doing. Untuk menganalisis masyarakat pedesaan yang bersifat bersahaja maka diperlukan konsep kebudayaan yang sederhana yaitu kebudayaan dilihat dari aspek kebudayaan dan non kebudayaan (immaterial culture) yaitu kebudayaan dilihat sebagai suatu sistem nilai dan norma adat istiadat yang mengatur perilaku dan peri kehidupan masyarakat desa pola kebudayaan masyarakat desa yang termasuk pola kebudayaan tradisional adalah merupakan produk dari benarnya pengaruh alam terhadap masyarakat yang hidup tergantung pada alam. Menurut Paul H landis bahwa besar kecilnya pengaruh alam terhadap pola kebudayaan tradisional ditentukan oleh :

1.      Sejauh mana ketergantungan terhadap alam

2.      Tingkat teknologi yang dimiliki

3.      Sistem produksi yang diterapkan`

Jumat, 23 Oktober 2020

REVIEW SEJARAH PEDESAAN

 

NAMA  : SOFI LAILATUL ZAHRO

NIM       : 180110301029

REVIEW MATERI

 

Klasifikasi penduduk jawa menurut Sutardjo Kartohadikusumo didasarkan pada faktor pemilikan atau penguasaan lahan pertanian:

1.      Warga desa yang memiliki lahan pertanian, rumah, dan tanah pekarangan

2.      Warga desa yang punya rumah dan tanah pekarangan 

3.      Warga desa yang punya rumah di atas pekarangan orang lain 

4.      Warga desa yang menikah dan mondok di rumah orang lain

5.      Pemuda yang belum menikah .

Jadi, kehidupan masyarakat tergantung dengan ekologinya, ekologi atau lingkungan juga bisa mempengaruhi stratifikasi sosisial, seperti halnya tanah dan air.  Tanah menurut orang Jawa adalah segalannya yang berbeda dengan Madura, tanah digunakan sebagai sumber kehidupan pangan.  Tanah di Jawa teksturnya berbeda dengan Madura yang cenderung kering sehingga di Madura banyak yang bercocok tanam tidak bersawah dan banyak juga yang berternak sapi. Dalam kegiatan bersawah membutuhkan air untuk sawah yang diatur oleh Ulu – Ulu atau dikenal dengan Jaga Tirto ( Penjaga Air ).  Interaksi sosial  jelas terjalin dalam kegiatan tersebut karena sejatinya manusia  adalah makhluk sosial yang mana membutuhkan manusia lain dalam sepanjang hidupnya, selain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dalam interaksi sosial masyarakat juga menggunakan agama sebagai alat komunikasi  untuk melestarikan symbol – symbol. Seperti, di Madura yang sedikit memiliki air sehingga meminimalkan dalam interaksi sehingga menggunakan symbol agama seperti jenang sapar atau maulidan  sebagai alat komunikasi dengan masyarakat lain.

            Menurut Soetardjo tanah Jawa itu sangat penting yang mana nanti bisa menjadi komoditas yang mana hampir perjalanan dinamika di Indonesia tanah menjadi isu yang menarik untuk dipermasalahkan. Tanah di Jawa diperoleh dari hasil keturunan atau tidak membeli . Salah satu jargon Komunis adala “ sama rata, sama rasa ” dalam pemilikan tanah , jadi orang – orang Jawa yang tanahnya luas – luas  itu dikumpulkan yang menjadi sasaran adalah kepala desa atau “ tuan tanah ” dan diperintahkan untuk membagi. Clifford Greertz menyebutkan terjadinya involusi, kalau di Indonesia hal tersebut terjadi karena dari tanah leluhur kemudian di bagi ke anak cucu sehingga ini yang mendasari kegagalan komunis dalam menancapkan kekuasaannya. Menurut interpretasi pemerintah Indonesia apa yang dimiliki oleh pemerintah kolonial maka otomatis akan menjadi harta rampasan yang bisa dikuasai oleh pemerintah Indonesia.

            Tanah yang luas akan dikuasai oleh militer atau dimiliki oleh militer. Perkebunan pada masa nasionalisasi itu dibagi untuk rakyat dan militer. Dalam hal ini akan menimbulkan persoalan yang mana militer akan berebut tanah dengan kaum pribumi.

Pola kehidupan masyarakat desa menurut Smith dan Zopf dibagi menjadi dua :

1.      Desa sistem satu kelas dimana desa pemilikan lahan penduduknya mempunyai luas yang rata – rata sama, sehingga terdapat stratifikasi sosial.

2.      Desa sistem dua kelas yaitu desa yang mana sistem kepemilikan lahannya memiliki luas lahan yang berbeda yang mencolok, sehingga terdapat polarisasi sosial.

Pelapisan masyarakat desa menurut Smith dan Zopf :

1.      Berdasarkan luas dan pemilikan tanah

2.      Adanya pihak lain di luar sector pertanian

3.      Didasarkan system persewaan atau penguasaan tanah

4.      Sifat pekerjaan.

Struktur sosial horizontal merupakan gambaran mengenai keberadaan pengelompokan sosial dalam masyarakat. Secara umum masyarakat desa merupakan komunitas yang kecil sehingga satu dengan lainnya terdapat kemungkinan yang besar untuk saling berhubungan secara langsung dan saling mengenal secara pribadi yang disebut dengan hubungan primer dan kelompoknya disebut kelompok primer.  Kelompok primer itu antara lain, keluarga, antar tetangga, dan komonitas.

 

Jumat, 16 Oktober 2020

REVIEW SEJARAH PEDESAAN

 

NAMA  : SOFI LAILATUL ZAHRO

NIM      :  180110301029

REVIEW MATERI

Desa yang ada di Indonesia sangat beragam, dengan peribahasa yang terkenal adalah desa mawa cara, negara mawa acara yang mana dengan singkatnya adalah setiap daerah memiliki khas atau tradisi yang berbeda sehingga menciptakan aturan dan keunikan masing – masing. Di Jawa tanah didasarkan pada penguasaan lahan pertanian, ini yang kemudian disebut dengan Involusi pertanian, dibagi – dibagi  dan diturunkan kepada anggota keluargannya, berbeda dengan Komunis yang menganggap tanah dimiliki oleh tuan tanah. Desa merupakan satuan masyarakat yang mana di dalamnya terdapat 3 unsur yaitu rangkah (wilayah), darah (satu keturunan), dan warah (ajaran atau tata hidup atau pergaulan sebagai masyarakat desa) sedangkan menurut Bintarto desa memiliki tiga unsur yaitu :

1.      Daerah, suatu desa harus memiliki wilayah , daerah yang mana menjadi tempat tinggal penduduk, selain itu juga sebagai tempat mata pencaharian penduduk.  Dalam arti tanah – tanah yang bias menjadi lahan produksi dan tidak yang penggunaannya termasuk juga lokasi, luas dan batas merupakan lingkungan geografis setempat.

2.      Penduduk, yang meliputi jumlah penduduk, pertambahan penduduk, menganai kematian dan kelahiran, kualitas penduduk atau SDM yang berkualitas, dan persebaran penduduk.

3.      Tata kehidupan yang erat kaitannya dengan norma, adat – istiadat dan aspek budaya lainnya.

Dalam hal ini, tiga unsur tersebut saling berhubungan yang mana wilayah atau daerah sebagai tempat tinggal penduduk, sehingga di dalamnya melakukan tata kehidupan yang berkaitan dengan norma – norma. SDA ( Sumber Daya Alam ) mempengaruhi juga terhadap kehidupan ekonomi dan tingkat kemajuan. Sehingga setiap desa memiliki gheograpical setting dan human effort yang berbeda – beda. Ada desa yang SDA nya berlimpah tetapi SDM nya kurang memadai sehingga menyebabkan desa tersebut tidak maju karena keterampilan dan pendidikannya yang rendah dan sebaliknya, seharusnya SDA yang melimpah diimbangi dengan SDM yang unggul juga.

Selain itu, ada 4 unsur desa yaitu lokasi sebagai letak fisiografis mengenai jauh dekatnya desa dengan daerah seperti laut, kota, pegununggan dan lainnya, sehingga lokasi ini berkaitan dengan ekonomi pedesaan. Kedua, iklim mengenai keberadaan desa yang tergantung pada topografis permukaan laut  yang disebut dpl. Ketiga, tanah yang menentukan keberhasilan mata pencaharian yang bersangkutan dengan ekonomi bercocok tanam seperti kesesuaian terhadap tanah seperti tanah gembur, tanah kapur tanah liat dan lainnya. Keempat, air yang menjadi sumber hidrolis kehidupan yang tidak kalah penting, selain itu juga membantu irigasi, perikanan  dan kehidupan lainnya.

Persebaran desa dan ciri – ciri desa

Persebaran desa itu menggerombol, saling menjauhi antara satu dengan yang lain yang disebabkan karena fasilitas, iklim kaitannya dengan ketinggian tempat. Desa yang masyarakatnya erat sekali dengan alam. Penduduk desa merupakan suatu unit sosial dan unit kerja. Biasanya satu desa mata pencaharian sama, karena ditunjang dengan kondisi alam yang sama. Kondisi alam akan mempengaruhi mata pencaharian. Masyarakat desa yang mewujudkan suatu paguyupan atau Gemeinschaf . penggerombolah tersebut disebbakan dengan adanya kaitan alam . Menggerombolnya antara satu dengan yang lain dalam penduduk desa merupakan satu unit desa atau satu unit kerja sehingga membentuk paguyupan atau keluarga. Masyarakat desa mewujudkan suatu paguyuban dengan kekuatan ikatan kekeluargaan.

Ciri – ciri wilayah desa menurut Dirjen Bangdes ( Pembangunan Desa ) :

·         Perbandingan lahan dengan manusia cukup besar sehingga lahan di pedesaan relative luas dan sehingga kepadatan penduduk masih rendah.

·         Lapangan kerja yang dominan adalah agraris

·         Hubungan warga desa yang akrab satu sama lain

·         Tradisi lama yang masih berlaku.

Pola permukiman desa menurut Bintarto yaitu :

·         Memanjang jalan, susunan desanya mengikuti jalur – jalur jalan.

·         Memanjang sungai, susunan desanya mengikuti jalur – jalur sungai.

·         Radial, berbentuk radial terhadap gunung dan memanjang sepanjang sungai di lereng gunung.

·         Tersebar

·         Memanjang pantai

·         Memanjang pantai dan sejajar dengan kereta api

Sebelum bercocok tanam, proses cikal bakal komunitas masyarakat desa prosesnya sangat lambat. Berburu=>meramu=>menangkap ikan, hal tersebut membutuhkan hubungan dan kerja sama yang teratur dan permanen, karena masih berpindah-pindah mengikuti binatang buruannya. Maka, hal tersebut nanti yang akan mencerminkan bentuk pra masyarakat, karena masih belum teratur dan permanen. 10.000 tahun yang lalu, sifat tanaman yang terikat waktu dan terikat pada tanah yang subur dan tepi-tepi sungai atau danau, sehingga terjadi pengelompokan yaitu terjadinya hubungan yang teratur diantara masyarakat-masyarakat itu. Terciptanya symbol – symbol yang menjadi awal perasadaban mereka. Kegiatan cocok tanam menandai lahirnya fenomena desa.

Secara keilmuan  menurut ahli sosiologi Paul H Landis desa merupakan lingkungan dimana warga memiliki hubungan akrab yang bersifat informal. Menurut tujuan analisis desa itu memiliki tiga pengertian baik itu secara statistic, secara sosiofisiologi,  dan ekonomi. Sedangkan menurut Roucek dan Warren, masyarakat desa dapat dilihat dari karakteristiknya misalnya peranan kelompok primer dan factor geografis sebagai dasar pembentuk kelompok. Menurut  Piti Zimmerson factor yang menentukan masyarakat desa yaitu mata pencaharian, ukuran komonitasnya, tingkat kepadatan penduduk , lingkungannya, diferensi sosialnya, stratifikasi social, interaksi sosialnya, solidaritas sosialnya. Hal ini akan menentukan prakteknya yang sukar diterapkan karena semakin meningkatnya mobilitas masyarakatnya dan berkembangnya jalur transportasi sehingga yang terjadi adalah tipisnya antara desa dan kota.  Ciri – ciri masyarakat desa menurut Talcot Parson yaitu menggambarkan masyarakat desa sebagai masyarakat tradisional, sebagai berikut :

1.      Efektifitas yang berhubungan dengan kasih sayang, perasaan, kesetiaan, dan kemesraan.

2.      Orientasi kolektif itu mementingkan kepentingan kebersamaan, tidak suka menonjolkan diri, tidak suka berbeda pendapat harus memperlihatkan keseragamaan dan kesamaan

3.      Partikularisme, semua hal yang ada hubungannya dengan keberlakukan khusus  untuk suatu tempat atau daerah tertentu. Perasaan subyektif, perasaan kebersamaan sesungguhnya hanya berlaku pada kelompok tertentu.

4.      Askripsi , berhungan dengan mutu atau sifat khusus yang tidak diperoleh berdasarkan suatu usaha yang tidak disengaja, namun merupakan suatu keadaan yang sudah kebiasaan atau keturunan.

5.      Kekabaran (diffuseness), suatu yang tidak jelas yang merupakan hubungan antara pribadi tanpa ketegasan yang dinyatakan eksplisit. Masyarakat desa menggunakan Bahasa tidak langsung untuk menunjuk sesuatu, mitos.

Masyarakat desa yang masih murni yang berpengaruh dari luar sebenarnya itu ada terdapat bermacam – macam gejala yaitu tentang konflik atau pertengkaran, kontrofersi atau pertentangan , kompetisi atau persiapan. Penilaian masyarakat desa dianggap tinggi pada masyarakat yang dapat bekerja keras tanpa bantuan orang lain jadi bukan masyarakat yang senang diam tapi banyak aktivitas. Struktur masyarakat desa menurut konsep struktur dan sosial adanya hubungan yang jelas dan teratur antara orang  yang satu dengan lainnya perlu aturan main yang diakui dan dianut oleh masyarakat sekitar. Menurut Pitrin Sorokin membedakan struktur sosial menjadi :

1.      Struktur sosial vertikal yaitu berdasarkan pelapisan atau stratifikasi sosial yang akan menggambarkan kelompok sosial dalam susunan yang bersifat hierarki.

2.      Srtuktur sosial horizontal, atau diferensiasi sosial yang menggambarkan variasi keberagaman dalam pengelompokan sosial

Pola permukiman menurut Smith dan Zopf adalah berkaitan dengan hubungan spasial antara pemukiman penduduk desa yang satu dengan yang lain  dan dengan  lahan pertanian mereka. Keterkaitan factor biologis dan struktur sosial mata pencaharian, tenaga fisik menjadi factor dominan yang lebih tua dan  secara fisik lebih kuat seperti lelaki memiliki kedudukan lebih tinggi. Struktur sosial vertikal atau lapisan sosial yang merupakan gambaran dari kelompok – kelompok sosial dalam susunan hierarki yaitu  untuk mengenalinya melalui lambang status atau symbol yang berkaitan dengan semua hal yang menjadi pertanda dari suatu  lapisan sosial contohnya kekayaan, gaya hidup, keturunan dan lainnya yang dianggap mempunyai nilai dalam masa lampau.

 Klasifikasi penduduk jawa menurut Sutardjo Kartohadikusumo didasarkan pada faktor pemilikan atau penguasaan lahan pertanian:

1.      Warga desa yang memiliki lahan pertanian, rumah, dan tanah pekarangan

2.      Warga desa yang punya rumah dan tanah pekarangan 

3.      Warga desa yang punya rumah di atas pekarangan orang lain 

4.      Warga desa yang menikah dan mondok di rumah orang lain

5.      Pemuda yang belum menikah .

Kamis, 08 Oktober 2020

REVIEW SEJARAH PEDESAAN

 

NAMA    :  SOFI LAILATUL ZAHRO

NIM         : 180110301029

REVIEW SEJARAH PEDESAAN

Sejarah Pedesaan yaitu sejarah yang tidak hanya mengenai desa atau atau latar belakang berdirinya desa tersebut,  akan tetapi juga mengenai perubahan – perubahan yang ada di desa mulai dari system sosial, ekonomi, budaya dan laiinya karena setiap desa memiliki keunikan masing – masing. Desa berasal dari kata Dhesi yang berasal dari Bahasa Sansekerta yang berarti tempat tinggal. Nama – nama desa yang ada di Indonesia memiliki julukan yang berbeda beda seperti di daerah Aceh yang menyebut desa dengan istilah gambong, meusanah selain itu di Maluku juga menyebut desa dengan istilah dati, sebutan kampng untuk orang di Banten, Jawa Barat dan Yogyakarta menyebut desa dengan istilah dusun.

            Banyak yang mempermasalahkan mengenai asal usul desa, seperti halnya Van Der Burg yang beranggapan bahwa desa yang berada di Jawa itu buatan Hindia bukan asli dari Indonesia sedangkan menurut Sutarjo Kartodikusumo, desa yang ada di Jawa ini asli dari rakyat Indonesia bukan buatan luar Indonesia, desa yang mandiri yang berasal dari nomaden sehingga menetap yang memiliki sosial, hukum, adat.      Desa memang sekarang mengalami peningkatan mulai dari pra sejarah hingga masa reformasi, disebabkan adanya pemekaran desa. Ada tiga unsur desa yaitu :

  1.   Rangkah atau wilayah, tanah pekarangan dan pertanian beserta penggunaannya.
  2.   Darah atau keturunan
  3.   Warah (ajaran atau adat ) yang mana ajaran ini tentang tata kehidupan atau tata pergaulan dan ikatan – ikatan sebagai warga masyarakat desa.

Mengenai unsur – unsur desa jelas saja memiliki perbedaan menurut para ahli seperti unsur desa menurut Bintarno yaitu :

  • 1.      Daerah
  • 2.      Penduduk .
  • 3.    Tata kehidupan biasanya satu desa adalah satu keturunan dan ada tata  ajaran atau adat . Seperti halnya salah satu  desa di Bali yaitu Desa Panglipuran, selain desa yang terkenal dengan kebersihannya, desa ini juga terkenal dengan hokum adatnya yang salah satunya larangan berpoligami, dengan hukuman yang melanggar adalah diasingkan, dalam hal ini berarti desa memiliki tata kehidupan sendiri . Ini yang bisa memperkuat statement setiap desa atau wilayah berbeda adatnya.

Dari keterangan diatas, desa sama halnya dengan negara harus ada unsur yang menjadikan desa tersebut bisa disebut desa, selain itu perlu adanya pengakuan dari desa lain juga  untuk mengakui keberadaan desa tersebut. Selain 3 unsur general diatas, biasanya sebuah desa memiliki batas – batas wilayah yang biasanya dibatasi dengan pegunungan, jalan besar, persawahan yang panjang dan lainnya. Selain itu juga kondisi geografis yang terdiri dari tempat, iklim, tanah, air dan itu yang juga menentukan persebaran dari desa yang disebut letak fisiografis atau lokasi dan hal ini juga mempengaruhi kondisi ekonomi desa. Di Indonesia juga masih terdapat desa yang terpencil, terluar dan terkecil yang biasa disebut 3T.

Persebaran desa dan ciri – ciri desa .

Desa itu cenderung di rendahkan, padahal secara historis masyarakat desa itu memiliki peran penting terhadap sejarah pembentukan dan perkembangan peradabaan manusia. Administratif itu hanya bikinan secara modern, yang fisiologis historis itu berawal dari nomaden, menetap, berkelompok dan mereka sepakat untuk membuat desa, desa – desa bergabung menjadi kerajaan. Karena secara administratif pemerintahan kita lebih dahulu mengenal kerajaan, setelah masa kolonial kita mengenal apa yang disebut dengan administrasi modern, yang disebut dengan NKRI. Administrasi ganda seperti secara modern diperkenalkan apa administrasi secara modern yaitu Gubernur Jenderal lalu Provinsi lalu Keresidenan lalu Kabupaten lalu Kecamatan dan yang paling bawah itu Desa. Secara administrasi itu modern tetapi mereka memanfaatkan elit – elit  pribumi.

Ciri – ciri desa yaitu dilihat dari  geografis, tekonologi, perbedaan dasar, keberagaman, dan pengaruh kekuasaan dari luar. Persebaran desa itu menggerombol, saling menjauhi antara satu dengan yang lain karena fasilitas, iklim kaitannya dengan ketinggian tempat. Desa yang masyarakatnya eart sekali dengan alam, penduduk desa merupakan suatu unit sosial dan unit kerja. Biasanya satu desa mata pencaharian sama, karena ditunjang dengan kondisi alam yang sama. Kondisi alam akan mempengaruhi mata pencaharian. Masyarakat desa mewujudkan suatu paguyuban dengan kekuatan ikatan kekeluargaan.

Kamis, 01 Oktober 2020

REVIEW SEJARAH PEDESAAN

NAMA : SOFI LAILATUL ZAHRO

NIM     : 180110301029

REVIEW SEJARAH PEDESAAN

Desa merupakan unit terkecil dalam pemerintah yang menjadi bagian  penting dalam pemerintah. Sejarah Pedesaan memiliki arti yang sangat luas, mulai dari Sejarah yang berasal dari bahasa Arab yaitu syajarotun yang berarti pohon, sejarah yang diibaratkan dengan pohon, pohon yang mengalami perubahan  dengan berdasarkan waktu sama halnya Sejarah yang berbicara mengenai perubahan (change ), waktu dan kejadian kejadian yang benar – benar  terjadi di masa lalu. Selain itu dalam mengungkap atau menyelidiki kejadian yang terjadi di masa lalu membutuhkan metode sejarah dengan rumus 5W+ 1 H sehingga dapat merekontruksi kejadian yang telah terjadi.

Selanjutnya mengenai definisi pedesaan dari para ahli :

Menurut Bintarto pengertian desa merupakan  perwujudan atau kesatuan geografi, sosial, ekonomi, politik dan kultural yang terdapat di dalam suatu daerah dalam hubungannya dan pengaruhnya secara timbal balik dengan daerah lain, seperti karena adanya Desa X karena adanya timbal balik dari Desa Y.

Menurut C.S Kansil pengertian desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerintah terendah langsung dibawah kecamatan dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan NKRI.

Selain itu pengertian desa menurut Paul H Landis yaitu dengan ciri banyaknya penduduk kurang dari 2.500 jiwa, selain itu mempunyai pergaulan hidup dengan saling mengenal dengan ribuan jiwa dan ada pertalian rasa yang sama tentang kesukaan terhadap kebiasaan.

Dengan membandingkan pernyataan C.S. Kansil dengan masa sekarang, Desa bias berdiri sendiri, menurut saya memang benar karena desa di Indonesia pada masa sekarang sudah mengalami perbaikan dan adanya dana desa yang sudah mengalir langsung di kas desa. Hal tersebut membuktikan bahwa Desa secara administratif memang berada di bawa koridor Kecamatan tetapi bukan dalam hal rumah tangganya cuma dalam hal tingkatan.

Mengenai sejarah Desa di Indonesia, desa lebih dulu ada dibandingkan dengan kerajaan Hindu – Budha yang ada di Indonesia. Semula orang – orang hidup nomaden dan pada akhirnya memutuskan untuk hidup menetap dan membentuk desa yang mana mereka sadar juga karena ada kesamaan budaya, wilayah, keturunan, dan sosial. Pembentukan desa yang ada di Indonesia ini ada yang mengatakan terbentuk sendiri ya dengan adanya nomaden hingga menetap tadi dan ada juga yang mengeklaim bahwa desa buatan kolonial.

Sehingga Sejarah Pedesaan yaitu sejarah yang tidak hanya mengenai desa atau atau latar belakang berdirinya desa tersebut,  akan tetapi juga mengenai perubahan – perubahan yang ada di desa mulai dari system sosial, ekonomi, budaya dan laiinya karena setiap desa memiliki keunikan masing – masing.


Selasa, 29 September 2020

SEJARAH PEDESAAN

NAMA :  SOFI LAILATUL ZAHRO

NIM       : 180110301029

SEJARAH PEDESAAN

Negara Indonesia yang memiliki perjalanan sejarah yang panjang dalam genggaman penjajah sehingga mewariskan sebuah ilmu yang berharga yaitu ilmu sejarah.  Sejarah pedesaan menjadi bagian yang ada di dalamnya yang berkaitan dengan desa dan kehidupan yang ada didalam desa  di Indonesia.

Membahas mengenai Sejarah Pedesaan jelas tidak lepas dengan kata desa itu sendiri.  Desa sudah ada sejak berkembangnya kerajaan Hindu – Budha di Nusantara, yang mana desa pada Masa Mataram Hindu dikenal sebagai wanua yang posisinya di bawah kerajaan dan watek ( provinsi atau kabupaten ). Di dalam suatu desa terdapat pemimpin dan  rakyat atau masyarakat desa yang sehingga membentuk suatu adat atau tradisi yang berbeda – beda disetiap desa. Selanjutnya pengertian Sejarah pedesaan menurut Marc Bloch yaitu History is above all a science of change. Disini waktu menjadi sesuatu yang penting, sebab perubahan ialah sebuah proses dalam waktu, perubahan berarti perpindahan dari sebuah keadaan ke keadaan yang lain, yang mana setiap keadaan mengandung makna aspek structural dari sejarah sehingga bias membentuk sebuah  keadaan berdasarkan kronoogis. Kedua, Sejarah Pedesaan adalah sejarah yang meneliti tentang desa atau pedesaan, masyarakat petani dan ekonomi perdesaan. Desa sebagai kesatuan territorial dan administratif yang terkecil di Indonesia. Dalam sejarah pedesaan , desa dapat dimasukkan dalam satuan – satuan :

1.      Satuan ekosistem, yang berarti hasil perpaduan antara aktivitas manusia , keadaan biologis dan proses fisik. Ekosistem di Indonesia dibedakan menjadi dua macam yaitu ekosistem ladang dan ekosistem sawah yang dijelaskan oleh Clifford Geertz dalam Agricultural Involution.

2.      Geografis, dalam satuan geografis terdapat berbagai macam hubungan antar pedesaan, satuan geografis itu seperti perbukitan, daerah aliran sungai, pantai, teluk, selat dan pedalaman desa yang hubungan tertentu satu sama lainnya.

3.      Ekonomis, satuan ekonomis dapat atau tidak menjadi bagian dari satuan geografis, sehingga keduannya memiliki hubungan. Keadaan geografis mempengaruhi keadaan ekonomi masyarakat desa seperti halnya ketika masyarakat desa yang berada di daerah pantai, sehingga dalam pemenuhan ekonomi mereka mengandalkan keadaan pantai contoh seperti nelayan, petani rumput laut dan lainnya.

4.      Budaya, dalam suatu kesatuan dalam sejarah pedesaan yang dapat berupa hukum adat atau cultural area. Masing – masing daerah hukum adat mempunyai system sosio ekonomis dan budaya tersendiri. 

PERMASALAHAN

Seperti yang telah dijelaskan diawal mengenai sejarah pedesaan, ada beberapa  pokok permasalahan antara lain :

1.      Bangunan fisik, sejarah bangunan fisik pedesaan masih belum mendapatkan perhatian dari peneliti, meskipun banyak sumber tradisional dan Belanda yang berisi keterangan mengenai pedesaan. Sejarah pedesaan dapat berupa monografi tentang sebuah satuan penelitian atau khusus mengenai satu desa tertentu, kalau memang sumber – sumbernya memungkinkan. Perubahan ekologi, pemukimam, jalur komunikasi, dan penduduk termasuk dalam kelompok ini. Pembangunan saluran irigasi, waduk – waduk, perkebunan, penyusutan lahan pertanian karena berubah menjadi pemukiman serta perubahan jalur transportasi , perubahan yang terjadi sangat dipengaruhi oleh struktur fisik daerah tersebut sesuai dengan kebutuhan pedesaan yang menunjang ekonomi atau kelangsungan hidup lainnya.

2.      Satuan social, yang termasuk dalam satuan social antara lain, keluarga, kesatuan desa , kelas social, kelompok agama dan budaya, dan kelompok etnis.

·         Sejarah keluarga yang belum mendapat perhatian, tetapi beda halnya dengan di Perancis. Dalam sejarah keluarga dapat dibicarakan tentang sosialisasi, pendidikan seks, permainan, kebudayaan anak, jenjang – jenjang umur, hubungan antar remaja, perkawinan, dan system keluarga. Selain itu bias juga dipelajari masalah perkembangan dan penyebaran demografisnya, mobilitas social antar generasi di lingkungan sebuah keluarga besar sampai pertengkaran keluarga. Sejarah keluarga yang kongkret hanya kemungkinan jika ada catatan keluarga atau metode sejarah lisan

·         Kesatuan desa, desa yang sebagai kesatuan social, territorial, dan administrative yang juga belum diteliti secara khusus, yang dapat dibicarakan antara lain perangkat desa, system pemerintahan desa, system social desa, system keamanan desa, pasar desa yang dapat diteliti melalui hasil sastra tradisional, aturan – aturan, tradisi lisan serta laporan lain.

·         Masalah pengelompokkan dalam status dan kelas sosial, kelompok budaya, agama dan etnis juga termasuk satuan sosial. Lembaga desa yang berupa pola hubungan sosial dan organisasi sosial merupakan tema yang kaya untuk dikaji.

3.      Lembaga sosial, seperti lembaga pemerintahan, keagamaan , politik, ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan dan lainnya.

4.      Hubungan sosial, focus penelitiannya ialah masalah stratifikasi, integrasi, konflik, mobilitas sosial, migrasi dan hubungan desa – kota.

5.      Gejala psiko – kultural, masuknya unsur – unsur baru dalam psikis dan budaya pedesaan telah secara umum dapat merubah mental budaya masyarakat desa dan dapat merubah nilai – nilai dalam bidang sosial dan ekonomi.

Contoh permasalahan :

Ilmu sejarah yang tidak mempunyai teori mengharuskan untuk memiliki ilmu bantu antara lain seperti sosiologi, antropologi, ekonomi dan lainnya sehingga menyebabkan kontroversi antar ilmu pengetahuan jika tidak diteliti, seperti dalam buku Sartono Kartodirjo , Peasants Revolt of Banten in 1888, banyak yang mengira ini termasuk dalam kajian sejarah pedesaan tetapi ini sebenarnya termasuk dalam sejarah sosial karean lingkup garapanya yang menyangkut tentang masalah politik colonial. Dengan demikian pembatasan masalahnya harus kembali kepada masyarakat petani di dalam atau di lingkungan pedesaan, dengan desa atau sebagai tolak ukurnya.

 

SEJARAH EKONOMI PEDESAAN

Dalam kehidupan manusia yang individual maupun yang berkelompok tentu saja mengalami dinamika kehidupan antara lain tentang bagaimana cara mempertahankan hidup dengan melakukan kegiatan kegiatan ekonomi. Kegiatan ekonomi yang dilakukan secara sederhana ataupun modern juga berkembang sesuai zamannya.  Secara singkat sejarah ekonomi mempelajari manusia yang sebagai produsen dan konsumen, jadi sejarah ekonomi bukanlah intepretasi ekonomis terhadap sejarah, yang termasuk dalam sejarah pada umumnya. Sejarah ekonomi yang telah melepaskan diri dari ekonomi pilitik itu terus berkembang dan mencapai puncaknya dalam studi yang semakin canggih dengan menggunakan metode qualitatis yang maju dalam gerakan The New Economic History.

Membahas mengenai masalah sejarah perekonomian yang ada di desa juga tidak lepas dari factor – factor tanah, kerja, capital, harga dan upah. Peranan dari masing – masing itu berbeda dalam berbagai tipe ekonomi. Perbedaan itu terletak dalam konsep apa yang menjadi modal utama sebuah system, apa yang harus diekonomiskan dan apa yang harus dimaksimalkan, seperti bicara prioritas. Sector ekonomi yang dikenal dalam ekonomi pedesaan tentu saja yang berhubungan dengan pertanian, perdagangan, peternakan, dan industry rumah tangga. Permasalahan ekonomi pedesaan atau ekonomi petani tentu tidak sama dengan ekonomi industri ataupun ekonomi kota. Ekonomi pedesaan juga memasukkan ekonomi primitif sekaligus ekonomi petani yang keduanya terdapat dalam masyarakat dengan kerangka ekonomi pasar sekarang ini. Beberapa kemungkinan permasalahan itu yaitu factor ekonomi, sector ekonomi, lembaga ekonomi, komoditi, pertumbuhan dan problem – problem lainnya. Ekonomi primitive memiliki keterbatasan yang bersifat ekologis, teknologis, dan sosial, yang mana hal itu juga terjadi dalam ekonomi petani meskipun memiliki tingkatan yang berbeda. Selain itu juga ada feodalisme yang memadukan antara ekonomi berdasarkan perintah dan adat sebagai sesuatu yang dominan. Ekonomi berdasarkan adat adalah ekonomi yang dibentuk dari bawah dan ekonomi perintah ialah ekonomi yang dibentuk dari atas. Ekonomi adat didasarkan atas seperangkat tradisi. Kiranya desa – desa di Indonesia pada abad – abad yang lalu dengan patrimonial mempunyai ciri – ciri yang mirip dengan tipe campuran itu. Masuknya ekonomi colonial dapat dianggap sebagai masuknya ekonomi berdasarkan perintah, terutama pada zaman Tanam Paksa, sehingga ekonomi di pedesaan merupakan campuran dengan adat yang dominan, tetapi ditingkat atas mirip dengan birokrasi klasik dengan perintah yang dominan. Dualisme ekonomi terjadi lagi ketika ekonomi pasar mulai menempatkan diri.

Munculnya antropologi dan sosiologi ekonomi merupakan usaha untuk menumbuhkan antara ekonomi dengan system budaya dan sosial. Teori – teori ekonomi biasanya hanya berlaku untuk masyarakat industrial, sedangkan untuk masyarakat non – pasar, bahkan ahli – ahli ekonomi harus melihat secara antropologi. Dalam hal kemajuan ekonomi ada kalanya dipengaruhi oleh etika agama seperti kaum muslim reformis yang mengorganisasikan kembali pasar menjadi toko, semacam ekonomi komersial selain itu factor psikologis yang mana memiliki keinginan untuk memajukan sesuatu yang menggerakan manusia untuk maju, ada juga faktor budaya yang dilihat dari hubungan luas dari pedagang pasar di Mujokuto dan budaya istana yang canggih di istana – istana Bali.

Kentataannya sejarah ekonomi lebih banyak memerlukan penggunaaan teori, model dan konsep-konsep ilmu sosial, termasuk ilmu ekonomi sendiri. Model tentang pertumbuhan ekonomi, misalnya, akan mampu memerangkan peristiwa dan struktur secara jelas.  Perubahan ekonomi dari ekonomi tradisional yang bersifat pedesaan, primitive, dan petani menuju ke ekonomi colonial dengan masuknya peraturan – peraturan ekonomi colonial dan akhirnya ekonomi kapitalis tidak menunjukkan tingkatan yang sepadan.

Dengan mengetahui sejarah pertumbuhan ekonomi di satu masa, ahli ekonomi dapat melihat waktu kontemporer dalam sebuah kerangka masa depan yang panjang dan dapat mengeluarkan ahli ekonomi dari semata mata dari pemecahan masalah ekonomi jangka pendek. Memang gejala ekonomi dan politik merupakan produk dari timbal balik dari kekuatan yang bersifat ekonomis dan non ekonomis. Perlu disadari memang teori sosial tidak dapat lepas dari sejarah. Sensitifitas ahli – ahli ekonomi memperhatikan juga segi non ekonomis. Demikian pula seharusnya bagi sejarawan ekonomi dan ekonomi pedesaan terlebih lagi.

 

SOSIOLOGI PEDESAAN

Sosiologi pedesaan juga tidak kalah penting untuk dipelajari selain sejarah pedesaan dan ekonomi pedesaan. Desa merupakan kesatuan masyarakat yang terkecil,  yang masih memiliki pola hubungan dan komunikasi yang rendah terutama di daerah yang terpencil dan pedalaman. Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengurus rumah tangganya sendiri berdasarkan hak asal – usul dan adat istiadat yang diakui dalam pemerintah nasional dan berada di kabupaten. Lingkungan yang menciptakan interaksi sosial yang menjadi usaha untuk pemenuhan kebutuhan hidup juga perlu mengetahui pola hidup masyarakat melalui ilmu sosiologi.  Sosiologi pedesaan adalah salah satu cabang dari sosiologi yang berkembang setelah adanya perhatian masyarakat di bidang pertanian yang mempelajari kehidupan masyarakat di pedesaan, mengenai perilaku, struktur sosial, organisasi sosial, lembaga, adat, kebiasaan dan perubahan sosial serta bagaimana cara untuk memecahkan masalah sosial. Sosiologi pedesaan dipahami sebagai penerapan teori – teori sosiologi dalam mempelajari masyarakat.

Di dalam sebuah pedesaan ada unit yang paling kecil lagi yaitu keluarga yang menjadi pelaku sebagai masyarakat desa. Sebenarnya masyarakat desa memiliki karakteristik akan tetapi setiap desa memiliki perkembangan dan perubahan. Selain itu juga memiliki tipologi masyarakat desa yang  dalam segi pemenuhan kebutuhan pokok dengan adanya desa pertanian desa industry dan desa pantai sebagai sarana pemenuhan kebutuhan pokok, segi pola permukiman dan segi perkembangan desa. Selain masyarakat desa di dalam pedesaan juga memiliki komunitas desa yang memiliki tipologi juga yaitu :konsep daerah hukum adat yang menyangkut kehidupan bermasyarakat dan pemerintahan desa mengenai tanah, kehidupan ekonomi rakyat dan hubungan kekeluargaan, konsep tipe sosiokultural dan konsep jenis mata pencaharian hidup.

Masyarakat dipandang sebagai system sosial yaitu pola interaksi sosial yang terdiri atas komponen sosial yang teratur dan melembaga, karakteristik sebuah system sosial yaitu struktur sosial yang mencangkup susunan status dan peran yang ada di satuan sosial yang memunculkan nilai – nilai dan norma yang akan mengatur interkais antarstatus dan peran sosial. Masyarakat selaku bagian dari struktur sosial akan melakukan tindakan sosial yang bertujuan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Perubahan sosial sering dikaitkan dengan modernisasi, industrialisasi, pembangunan, sehingga pengertiannya adalah perubahan perilaku yang diakibatkan karena terjadinya modernisasi, indusstralisasi dan pembangunan tersebut. Perubahan sosial dibagi menjadi 3 kategori yaitu : perubahan sosial yang berasal dari dalam system itu sendiri, lalu perubahan akibat ide – ide baru yang dibawa secara spontan oleh orang luar kepada anggota dari suatu system sosial dan perubahan yang dibawa sengaja.

            Para politikus menyebutkan bahwa perkembangan sosiologi pedesaan berkembang sangat lamaban. Dalam hal sejarah, sosiologi pedesaan kurang bisa mengembangkan analisis sistematis terutama masalah agraris, tentang produksi pertanian, pada tingkat perusahaan maupun struktur agraria.

KESIMPULAN :

Sejarah pedesaan adalah sejarah yang meneliti tentang desa atau pedesaan, masyarakat petani dan ekonomi pedesaan. Ekonomi pedesaan kegiatan ekonomi masyarakat desa yang berhubungan dengan ekologi yang juga memasukkan ekonomi primitif sekaligus ekonomi petani yang keduanya terdapat dalam masyarakat dengan kerangka ekonomi pasar sekarang ini. Beberapa kemungkinan permasalahan itu yaitu factor ekonomi, sector ekonomi, lembaga ekonomi, komoditi, pertumbuhan dan problem – problem lainnya. Sosiologi pedesaan adalah salah satu cabang dari sosiologi yang berkembang setelah adanya perhatian masyarakat di bidang pertanian yang mempelajari kehidupan masyarakat di pedesaan, mengenai perilaku, struktur sosial, organisasi sosial, lembaga, adat, kebiasaan dan perubahan sosial serta bagaimana cara untuk memecahkan masalah sosial.

KELEBIHAN    :

Penjelasan yang diberikan pada masing – masing buku cukup jelas dan terperinci, seperti  terdapat kajian permasalahan di dalam buku Metodelogi sejarah, sehingga dapat belajar menganalisis melalui penjelasan yang sudah dituliskan. Selain itu, bagi seseorang yang ingin mempelajari tentang sejarah ataupun mahasiswa buku – buku ini sangat membantu dalam penulisan sejarah sosiologi atau ekonomi pedesaan. Di dalam buku ini dilengkapi dengan footnote yang memudahkan pembaca dari mana rujukan penulisan buku tersebut.

KEKURANGAN :

Buku – buku ini masih menjelaskan tentang dasar – dasar mengenai sejarah pedesaan sehingga cakupan yang dibicaraka lebih luas dan tidak terbatas karena tidak adanya skup temporal. Selain itu Bahasa yang digunakan dalam buku tersebut menggunakan bahasa asing dan bahasa yang sulit dipahami sehingga membutuhkan waktu untuk memahaminya.

Sumber :

“Kartodirjo, Sartono. 1992. “ Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodelogi Sejarah”. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.” 

”Kuntowijoyo. 2003 Metodologi Sejarah”. Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya. ”

 “ Jamaludin, Adon Nasrullah. 2015. “ Sosiologi Pedesaan ”. Bandung : CV Pustaka Setia.”

“Susilawati , Nora. 2012. “Sosiologi Pedesaan  ”. https://www.coursehero.com/file/58539415/SOSIOLOGI-PEDESAANpdf/     diakses pada tanggal Senin, 28 September 2020 pukul 13.35.