Senin, 22 Maret 2021

PERUBAHAN SOSIAL

 NAMA : SOFI LAILATUL ZAHRO

 NIM : 180110301029 

REVIEW MATERI PERUBAHAN SOSIAL 

Suatu masyarakat pasti akan mengalami perubahan sosial, yang mana perubahan tersebut terjadi bisa secara lambat ataupun cepat. Istilah perubahan sosial berbeda dengan perubahan budaya, peruabahan sosial ini biasanya berkaitan dengan proses sosial atau struktur sosial, sedangkan perubahan budaya ini menyangkut spectrum yang lebih luas karena mencakup unsur – unsur kebudayaan yang ada 7 menurut Koentjoroningrat antara lain, sistem bahasa, sistem pengetahuan, sistem organisasi kemasyarakatan, sistem teknologi, sistem ekonomi, sistem religi, sistem kesenian. Menurut Sartono Katodirdjo, pembahasan mengenai perubahan social dari perspektif sejarah berangkat dari tiga butir referensi :

 1. Dinamika masyarakat menunjukkan pergerakan dari tingkat perkembangan awal menuju perkembangan lebih lanjut.

 2. Teori perubahan selalu menjunjukkan bahwa perubahan social memiliki arah, dari yang sederhana menuju kompleks. 

3. Dalam studi sejarah mengenai perubahan social yang dikaji adalah masalah pola, struktur, dan tendensi dalam proses perubahan tersebut Sosiolog klasik August Comte memperkenalkan dua konsep penting dalam teori perubahan sosial yaitu : 

         a. Social Stratic (bangunan struktural), bangunan structural merupakan hal-hal yang mapan, berupa syruktur yang berlaku di suatu masa tertentu.

             b. Social dynamics (dinamika struktur), dinamika social merupakan hal-hal yang berubah dari waktu ke wantu. 

 Faktor penyebab perubahan sosial Perubahan social dapat terjadi karena berbagai sebab, beberapa penyebab perubahan tersebut bersifat generalisir (bersifat umum) dan dapat pula berupa hal-hal spesifik. Perubahan social juga dapat berupa perubahan yang alamiah maupuk bersifat dipaksakan. Robert Lauer menyebutkan beberapa factor yang dapat menyebabkan perubahan social : 

1. Teknologi 

Teknologi menjadi penyebab perubahan sosial ini menurut William Ogburn, dimana beranggapan bahwa teknologi dianggap sebagai mekanisme pendorong perubahan manusia sehingga menciptakan lingkungan kehidupan manusia yang baru. Teknologi digunakan sebagai meningkatkan alternative kita sebagai alat untuk mencapai ketidakmungkinan, lalu teknologi dapat merubah pola – pola interaksi selain itu juga ada kecenderungan bahwa perkembangan teknologi menimbulkan masalah sosial baru. 

 2. Ideologi 

Ideology dapat menghambat perubahan dan juga bisa menyebabkan perubahan. Sebagai penghambat ini biasanya ideology sebagai sistem ide atau gagasan yang mempertahankan tatanan yang ada, hal ini tidak hanya pada ideology keagamaan akan tetapi komunisme juga berperan dalam membentuk suatu pemikiran manusia. Akan tetapi dalam perubahan sosial, juga dipermudah dan dianggap unik melalui ideology keagamaan seperti yang terlihat pada Taoisme dan Budhisme di Asia Timur. Ideology lain yang dapat membentuk perubahan sosial selain keagamaan adalah nasionalisme, sosialisme dan komunisme. 

 3. Kekerasan 

Biasanya kekerasakan diidentikkan dengan konflik, pertempuran dan peperangan. Seringkali masyarakat memerlukan kekerasan untuk melakukan perubahan, misalnya menentang suatu kekuasaan yang totaliter. Dari kekerasan yang dilakukan tersebut sehingga menimbulkan perubahan seperti, perubahan pola kehidupan masyarakat. 

4. Pemerintah 

Pemerintah dapat berperan sebagai pendorong perubahan dan sebagai penghalang perubahan sosial karena pemerintah mempertahankan status quo.

 5. Elit 

Elit lebih sering diasosiasikan sebagai kelompok penguasa di bidang politik sedangkan menurut Mannheim, ada beberapa macam elit yaitu elit politik, organisator, intelektual, seniman, moralis dan agama. Don Martindale, mengajukan teori terkait elit dan perubahan sosial dengan tiga pemikiran pokok antara lain: seluruh perubahan sosial – budaya adalah karya individual, peristiwa utama dalam sejarah manusia terdiri atas pembentukan dan penghancurann masyarakat dan peradaban dan elit intelektual menjadi pusat perhatian strategis bagi studi mengenai proses pembentukan dan pembenaran komunitas dan peradaban. 

 6. Pemuda 

Banyak pihak yang meyakini bahwa pemuda adalah motor perubahan, sebagai agent of change dan sebagainya, seperti yang ada di Indonesia peran pemuda untuk memerdekakan Indonesia pada peristiwa sumpah pemuda 28 Oktober 1928 yang didominasi para pemuda.

 Pola perubaahan sosial itu mengacu pada gerak sejarah yang berupa change atau perubahan. Gerak sejarah ada empat yaitu : 

  Siklus yang berarti setiap kejadian atau peristiwa tertentu akan terulang kembali seperti tumbuh kembangnya manusia dari bayi hingga kepada kematian dan terus saja berulang. 

 Linier yang mengalami perkembangan mengalami kemajuan (evolusi) biasanya dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengalami perbaikan. 

  Spiral atau melingkar ( cakra manggiling) selalu ada perulangan kembali, tetapi tidak kepada titil pangkal, melainkan ke titik yang lebih tinggi sehingga keseluruhannya merupakan kemajuan. Teori ini dianggap sebagai sintese dari gerak lingkar dan proses saling hubung antara pendapat sejarah berulang lagi dan sejarah berlaku sekali.

  Dialektis, pola sejarah yang menunjuukan bahwa peristiwa sejarah yang mengalami naik turun, pasang surut, yang menjelaskan dinamikanya.

TEORI - TEORI SOSIAL

 NAMA   : SOFI LAILATUL ZAHRO

 NIM        : 180110301029

 REVIEW MATERI 

                                            TEORI – TEORI SEJARAH SOSIAL

 TEORI – TEORI SOSIAL BAGIAN SATU Ilmu sejarah memiliki teori seperti yang telah disebutkan oleh Kuntowijoyo, selain teori ada juga generalisasi akan tetapi terbatas. Keterbatasan generalisasi ini dapat diatasi dengan ilmu – ilmu sosial yang menekankan pada keumuman, karena sejatinya setiap ilmu ada batasan masing – masing. Dalam bab ini akan mengkaji mengenai konsep tentang masyarakat yang dapat digunakan untuk membangun konstruk gagasan bagaimana tentang masyarakat dan dinamikanya. Aristoteles menyampaikan bahwa di dalam sebuah negara terdapat tiga unsur, yaitu mereka yang sangat kaya, mereka yang melarat dan mereka yang berada di tengah – tengah atau diantara dua golongan itu. Selain itu stratifikasi sosial bisa terjadi secara sengaja maupun alamiah. Pedoman yang digunakan untuk meneliti mengenai stratifikasi sosial antara lain :  Berpokok pada sistem pertentangan dalam masyarakat.  Dapat dianalisis dalam ruang lingkup sebagai berikut: 

1. Distribusi hak – hak istimewa yang objektif (penghasilan, kekayaan,) 

2. Sistem pertanggaan yang diciptakan oleh para warga masyarakat (prestise dan penghargaan) 

3. Kriteria sistem pertentangan dapat berdasarkan kualitas pribadi, keanggotaan kelompok kerabat tertentu, milik, wewenang atau kekuasaan. 

4. Lambang – lambang kedudukan 

5. Mudah sukarnya bertukar kedudukan 

6. Solidaritas diantar individu atau kelompok – kelompok sosial yang menduduki posisi yang sama dalam stratifikasi. 

            Sifat – sifat stratifikasi sosial ada dua yaitu terbuka dan tertutup. Stratifikasi tertutup (closed stratification) yaitu membatasi kemungkinan pindahnya seseorang dari satu lapisan ke lapisan lain lalu stratifikasi terbuka (open stratification) yaitu setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk berusaha dengan kecakapan sendiri untuk naik lapisan (tingkatan). Selain stratifikasi sosial masalah lainnya yaitu tentang kemiskinan. Kemiskinan adalah salah satu masalah sosial yang sangat relevan untuk diangkat dalam penulisan sejarah, sehingga terdapat beberapa pokok pemikiran yang menjadi pertimbangan seperti, penyebab kemiskinan , bagaimana kemiskinan dapat mempengaruhi suatu wilayah, upaya pengentasan kemiskinan dan hubungan kausalitas (sebab – akibat ) antara kemiskinan dengan problem sosial lain. Pembahasan selanjutnya mengenai, agama dan kemajemukan. Agama selain sebuah institusi yang bersifat normative juga memiliki dimensi sosial. Sejawan dapat meilihat sejarah agama sebagai bagian dari institusionalnya, juga dapat dilihat dari perubahan sosial dan ada dua model yang digunakan antara lain : 1. Model evolusi sejarah umpamanya : pada perubahan birokrasi, perubahan kelas pemeluk, perubahan lokasi dan perubahan pendidikan. 2. Model kekuatan sejarah umpamanya : pada agama dan modernisasi, agama dan penetrasi agama lain, agama dan pribadi kreatif dan agama dan masyarakat pasca industrial. Selanjutnya mengenai perbedaan sosial atau yang biasa dikenal dengan differensi sosial yang berarti bahwa perbedaan masyarakat secara horizontal. Hal ini berarti di dalam satu masyarakat dengan masyarakat lainnya tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah, sehingga perbedaan tidak didasarkan pada tingkatan akan tetapi kepada ciri khusus yang membedakan satu dengan yang lain. Terdapat tiga ciri perbedaan sosial antara lain fisik, ciri budaya dan ciri sosial. Perbedaan dalam masyarakat menjadikan timbulnua berbagai corak pada suatu kelompok masyarakat.

 

TEORI – TEORI SOSIAL BAGIAN DUA

Teori ini merupakan kelanjutan dari sebelumnya yang membahas empat pokok permasalahan, antara lain :

1. Wanita dalam sistem sosial Dalam kehidupan memang tidak terhindar dari peran perempua, seperti ketika pada masa pergerakan nasional perempuan yang sebelumnya hanya berada di rumah sebagai konco wingking ini kemudian berubah menjadi perempuan yang berperan dalam kemerdekaan Indonesia. Seperti peran RA. Kartini yang menjadi pelopor perempuan pertama yang mengobarkan semangat emansipasi. Namun, sejarawan tidak hanya boleh terpaku kepada pandangan umum semata, melainkan harus berpegang kepada data yang kemudian dianalisis sesuai dengan kajian kaidah ilmiah. Pencarian data tersebut bisa mengenai peran wanita dalam sistem sosial yang dapat membawa kepada wanita dalam dunia usaha, wanita dalam kesenian, pendidikan dan lainnya.

 

2. Korupsi Ilmu sejarah bisa melihat korupsi sebagai gejala zaman maupun sebagai proses yang berkelanjutan. Menurut UU Republik Indonesia No. 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas dasar Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, disebutkan bahwa korupsi tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga merupakan pelanggaran terhadap hak – hak sosial dan ekonomi masyarakat secara luas, sehingga tindak pidana korupsi perlu digolongkan sebagai kejahatan yang pemberantasannya harus dilakukan secara luar biasa. Dalam penulisan sejarah, tidak hanya mengungkapkan besaran korupsi, larinya uang koruptor kemana atau nilai suap oleh pengusaha tersebut akan tetapi sejarawan harus menyoroti situasi sosial dimana karus korupsi timbul, lalu mengenai bagaimana masyarakat memandangnya, serta aspek aspek sosial lain yang mungkin secara unik dapat ditemukin di satu kasus yang spesifik (prakondisi sosial yang memungkinkan terjadinya korupsi), sehingga dapat menghadirkan solusi untuk memberantas korupsi di Indonesia yang telah membudaya.

 

3. Gerakan sosial . Kajian sejarah tentang gerakan sosial ini memang sering diartikan sebagai suatu bentuk perlawanan atau pemberontakan dimata sejarawan kolonial. Hal tersebut dikarenakan, minat sejawaran yang lebih kuat kepada historiografi Neerlandosentris. Sehingga dalam penulisan yang Indonesiasentris, sejarawan lebih mengarahkan kepada peristiwa yang mendasar sehingga bisa mendapatkan peristiwa yang unik dan fundamental. Menurut Sartono Kartodirjo, dominasi Barat pada masa kolonial yang mengakibatkan perubahan – perubahan sosial telah menciptakan suatu kondisi yang memberi kecenderungan bagirakyat untuk mengadakan gerakan sosial. Biasanya pada bidang ekonomi, politik dan kultur yang dapat disorganisir masyarakat tradisional dan lembaga – lembaga sosialnya. Dalam suatu gerakan sosial seringkali diperkuat oleh perasaan – perasaan keagmaan dan berubah menjadi gerakan sosial – politik, selain itu gerakan rakyat masih bersifat arkhais yang masih sederhana dan pada umunya gerakan sosial bersifat abortif (berumur pendek). Selain itu gerakan sosial tidak dapat terpisah dengan aspek religio – magisme. Kategori gerakan sosial di Indonesia antara lain : 

 Perbanditan Sosial 

 Gerakan protes keadaan atau peraturan yang tidak adil 

 Gerakan yang bersifat revivalistis 

 Gerakan bercorak nativistis 

 Gerakan mesianistis 

 Gerakan yang dijiwai semangat perang sabil.

 

4. Protes sosial Gerakan protes sosial bisa belajar melalui karya dari buku Sartono Kartodirjo, Protes Movement in Rural Java. Protes sosial dalam bentuk lain, namun masih terkait dengan masuknya sektor/investasi adalah resistensi masyarakat adat terhadap pembangunan sektor pariwisata yang dipandang bertentangan dengan peraturan adat dan mengancam kelangsungan kelestarian lingkungan. Protes sosial dalam konteks kontemporer dapat ditemukan dalam kasus protes masyarakat petani terhadap industrialisasi. Masuknya modal swasta ke desa-desa sebagai upaya investor menyiasati mahalnya biaya produksi di kota, dimana berbenturan dengan peri kehidupan petani desa yang masih kuat unsur agrarisnya. Kedua kepentingan tersebut tidak dapat berjalan bersama bahkan kedua kepentingan tersebut justru bertentangan, sehingga sering muncul peristiwa dimana pihak petani melakukan tindakan protes secara kolektif. Protes sosial dalam bentuk lain, namun masih terkait dengan masuknya sektor/investasi adalah resistensi masyarakat adat terhadap pembangunan sektor pariwisata yang dipandang bertentangan dengan peraturan adat dan mengancam kelangsungan kelestarian lingkungan

Jumat, 26 Februari 2021

REVIEW SEJARAH KONTEMPORER INDONESIA

 

NAMA : SOFI LAILATUL ZAHRO

NIM     : 180110301029

REVIEW MATERI 1

SEJARAH KONTEMPORER INDONESIA

Dalam pembahasan sejarah mustahil jika tidak dikaitkan dengan waktu (temporal). Seperti halnya dalam pembahasan Sejarah Kontemporer Indonesia yang juga berkaitan dengan masa atau waktu. Sejarah kontemporer sering disebut sejarah kekinian atau sejarah baru yang mana bisa memberikan perubahan pada sumber, metodelogi dan perspektif.     Batasan kajian sejarah kontemporer dimulai dari Indonesia medeka (1945) sampai sekarang sehingga disebut sejarah alternatif .  Objek kajian sejarah kontemporer ini memiliki batasan – batasan seperti batasan temporal karena kajiannya yang masa kini sehingga disebut sebagai sejarah alternative. Selain itu pada sumbernya, ketika peristiwa terjadi pada masa kini, maka sumber yang diperoleh bisa melalui pelaku atau saksi yang masih hidup dan  dokumen. Akan tetapi hal tersebut yang bisa dimanfaatkan oleh oknum – oknum yang bersangkutan dalam sebuah tulisan sejarah, seperti ketika seseorang saksi atau pelaku yang diwawancarai, mereka malah lebih rawan menceritakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kebenarannya atau menceritakan secara hiperbola atau malah mereka ketakutan untuk menceritakan kejadian yang mereka alami.

            No document no history, pengumpulan sumber menjadi penting dalam penulisan sejarah. Kesadaran akan sumber arsip di Indonesia masih rendah, bahkan merasa tidak perlunya arsip bisa dijadikan bungkus gorengan. Hal tersebut menjadi tantangan baru yang mengakibatkan sulitnya sumber bagi kajian sejarah kontemporer. Dengan demikian, ada juga keuntungan yang diperoleh yaitu seperti munculnya metodelogi dan pendekatan serta perspektif. Dengan keterbatasan document maka muncul banyak perspektif yang bisa di tulis dari beberapa sudut pandang, akan tetapi tetap harus didukung dengan sumber.  Jika memang minim document dalam penulisan sejarah kontemporer ini, bisa digunakan juga metode sejarah lisan melalui wawancara. Berbeda ketika mengkaji sejarah kolonial, yang mana sistem kerja mereka yang tertib administrasi dengan lengkapnya arsip yang mereka punya dan tersimpan dengan baik sehingga menjadi document.

            Kajian sejarah kontemporer tidak hanya mengkaji masalah politik saja tetapi dipengaruhi oleh faktor sosial, ekonomi, budaya dan lainnya. Dengan munculnya beberapa perspektif menjadi unik karena yang harus dikaji tidak hanya dari  berbagai pihak, seperti ketika pilkada, penulisan bisa dari perspektif  yang menang dan perspektif  dari pihak yang kalah. Dalam hal ini, sejarah tidak hanya mengkaji orang – orang besar akan tetapi juga orang – orang kecil:

Sejarah kontemporer Indonesia di bagi pada beberapa tahun :

·         1950, kemerdekaan , revolusi fisik, dekrit presiden dll

·         1960, peristiwa 65, super semar, dll

·         1970, Orde Baru, integrasi Timor – Timur dll

·         1980

·         1990, Krisi Moneter, Peristiwa 98, Reformasi

·         2000

REVIEW SEJARAH SOSIAL INDONESIA

 

NAMA  : SOFI LAILATUL ZAHRO

NIM       : 180110301029

REVIEW MATERI 1

SEJARAH SOSIAL INDONESIA

Dalam pembelajaran sejarah, sejarah sosial ini tidaklah asing. Sejarah sosial, yang berasal dari dua kata yaitu sejarah dan sosial. Sejarah yang berarti peristiwa yang telah terjadi pada masa lampau sedangkan sosial yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat. Faktanya, setiap makhluk yang ada di bumi ini tidak lepas dengan keterkaitan satu sama lain, maka dari itu manusia sering disebut dengan makhluk sosial yang masih membutuhkan manusia lainnya. Sehingga terjadilah interaksi sosial melalui kontak sosial dan komunikasi. Jadi, sejarah sosial secara umum sebagai sejarah masyarakat karena membahas tentang kehidupan masyarakat.

Sejarah sosial lebih menekankan aspek sosial masyarakat dibandingkan kajian politik, sejarah sosial yang ada di Indonesia diawali dengan adanya buku yang di tulis oleh Sartono Kartodirjo yang berjudul Pemberontakan Petani Banten 1888 yang mana tidak hanya bertumpu pada bidang politik. Melalui buku ini, Sartono Kartodirjo mampu menganalis menggunakan pendekatan interdisipliner yang khusus pada teori sosial. Buku ini jika dilihat melalui judul bisa digolongkan kepada sejarah pedesaan dari kata Petani, akan tetapi faktanya buku ini lebih kepada sejarah sosial yang mana membahas mengenai gerakan sosial yang berasal dari masyarakat bawah.

Manfaat penulisan sejarah bisa digunakan sebagai prediksi untuk masa depan, digunakan sebagai pengembangan ilmu dan selain itu penulisan sejarah diharapkan bisa menjadi pemecah masalah (manfaat praktis) yang sesuai dengan kehidupan masa kini, seperti halnya dalam penulisan sejarah sosial Indonesia.  

Jumat, 18 Desember 2020

REVIEW SEJARAH PEDESAAN

 NAMA : SOFI LAILATUL ZAHRO

 NIM : 180110301029

REVIEW PERTEMUAN KE 13

 Sejarah Desa Jember Kidul adalah kelurahan di Kecamatan Kaliwates, Jember, Jawa Timur. Sejarah Desa Jember Kidul adalah sebagai berikut : Kelurahan Jember Kidul,pada zaman dahulu wilayah Jember Kidul merupakan sawah, yang dimana hanya ada beberapa rumah dan ruma-rumah orang Belanda. Pada tahun 1971 mulai banyak rumah-rumah yang dibangun. Pada zaman Belanda rumah di daerah sana disebut dengan condro kongsi, ada yang disebut Kongsi Timur dan Kongsi Barat. Alasan disebut condro karena bnyak pengungsi yang berada di dekat Gudang Seng. Untuk menuju wilayah Jember Kidul melewati jalan utama yang lebarnya tidak begitu besar karena orang-orang pada zaman dahulu hanya menggunkan transportasi tradisional seperti dokar dan sepeda. Bayak gudang yang dibangun di Jember Kidul seperti Gudang Attak dan Gudang Seng. Gudang Attak digunakan tempat untuk menjemur tembakau. Sedangkan Gudang Seng merupakan pabrik yang dibuat oleh orang-orang Belanda. Terdapat dua Gudang Seng di Jember Kidul yaitu LMOD dan PTP. Kedua gedung tersebut merupakan kepemilikan orang Belanda. Keadaan setelah Belanda pergi tidak ada orang yang berani melewati Gudang Seng kareana gudang tersebut pernah digunakan sebagai tempat penahanan orang-orang PKI. Sejak zaman Orde Baru wilayah ini sudah dinamakan Jember Kidul. Sebelum menjadi Jember Kidul wilayah ini disebut dengan Kampung Tumpeng. Sejarah nama Kampung Tumpeng karena pada tengah-tengah kampung terdapat kuburan pada bagian tengah dari kuburan ada batu besar yang berbentuk seperti nasi tumpeng yang bagian atasnya seperti sudah dipotong. Hal itulah yang menjadikan masyarakat sekitar menyebut wilayah itu sebagai Kampung Tumpeng. Pada tahun 1980 generasi muda daerah Kampung Tumpeng menolak adanya tempat prostistusi yang ada di Kampung Tumpeng. Alasan pemuda menolak yaitu karena para pemuda yang berasl dari Kampung Tumpeng medapat hinaan dari orang-orang. Mereka yang tidak setuju berkumpul di pemerintahan kampung guna mengusulkan Kampung Tumpeng dirubah dan tempat prostitusi agar segera dipindah dari kampung tersebut sehingga nama kampung menjadi bersih. Jember Kidul meliputi Kebon Kidul, Kebon Ledok Lor, Kulon Pasar, Ledok, Pattimura dan Tegalsari. Kabupaten Jember termasuk dalam wilayah Jember Kidul yang tetap melalui proses pemilihan dengan cara dipilih ASN atau pegawai negeri. Sedangkan di desa proses pemilihan lurah dengan cara memilih suara terbanyak dari rakyat. Untuk bupati dan walikota proses pemilihannya menggunkan suara terbanyak dari rakyat karena jabatan politik.

Kamis, 10 Desember 2020

REVIEW SEJARAH PEDESAAN

 

NAMA : SOFI LAILATUL ZAHRO

NIM    : 180110301029

 

RESUME PERTEMUAN KE-12

Desa Janti, Kecamatan Tarik, Kabupaten Sidoarjo. Nama desa Janti berasal dari kata Jati, pada zaman dahulu di area persawahan penduduk desa setempat sampai sawah berada di sebelah barat sulit untuk di aliri air sampai ke ujung sawah. Air itu mengarah ke tengah sawah ke arah utara, hal ini disebabkan oleh lubang, yang kemudian dusun di desa itu di sebut dengan dusun “Balongan”. Kekurangan penulisan ini, penulis kurang menceritakan secara rinci mengenai sejarah Desa Janti, selain itu kebenaran mengenai lubang belum pasti, dan kelogisan cerita belum didapatkan.

Desa Prokimal Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan. Penamaan desa tidak lepas dengan program yang dijalankan oleh TNI AL dimana dibangun pemungkiman warga yang di nama “Program Pemungkiman TNI Angkatan Laut” yang disingkat menjadi Prokimal. Sebelum penggunaan nama Desa Prokimal bahwa wilayah tanah yang sebelumnya hutan yang tandus adalah tempat lahan kosong yang digunakan para masyarakat yang memiliki hewan untuk mencari rumpt atau rambanan. Sekitar tahun 1980-an wilayah Prokimal pernah dijadikan sebagai lahan perkebunan, dimana lahan tersebut ditanami tebu, gubis, dan buah anggur. Wilayah Desa Prokimal menjadi tempat keberangkatan para angkutan buah sebelum berangkat menuju gudang. Selanjutnya sekitar tahun 1998-an kembali digunakan sebagai lahan penamaan tebu, pada saat awal mulai kegiatan begitu lancar dan menghasilkan banyak hasil panen namun setelah adanya tragedy 98 pemilik perkebunan yang bernama Andreas dan merupakan etnis China sepertinya ikut merasakan dampak dari tragedy  98. Sehingga kegiatan perkebunan di sawah kepemilikan Andreas ini sedikit demi sedikit mengalami kemunduran dan akhirnya resmi berhenti pada tahun 2000-an.

Desa Tugurejo Kecamatan Ngasem Kabupeten Kediri, penamaan desa tersebut dari kata Tugu dan Rejo. Dalam artian desa ini disebutlah timurnya bangunan Simpang Lima Gumul serta adanya keinginan desa ini suatu saat akan ramai. Seperti halnya diperolehnya nama Rejo. Kekurangan dari penulisan ini, penulis kurang memeperhatikan bawasannya penamaan desa bersasal dari dua kata yaitu Tugu dan Rejo sedangkan yang dipaparkan hanya Rejo saja, mengenai sumber yang didapatakan tidak diperbolehkan di foto jadi disini penulis harus memaparkan mengenai sumber yang didapatkan, kekurangan lainnya penulis tidak menyerkatan cover dari tulisan tersebut.

Desa Ampel Kecamatan Wulihan Kabupaten Jember, sejarah berdirinya sudah ada sejak masa kolonial sekitar 50an, kata ampel berasal dari bahasa Jawa yaitu Buluh yang berarti bambu. Buluh/bambu merupakan tanaman jenis rumput-rumputan dengan rongga dan ruas dibatangnya. Konon katanya tanah di Desa Ampel juga dipakai untuk penamaan Desa Ampel ditumbuhi pohon bambu ampel sehingga diberi nama Desa Ampel. Desa Ampel mulai ada sekitar tahun 1935 dengan pemimpin pertamanya yaitu mbah Sujono, sehingga diasumsikan bahwa yang melakukan pembabatan adalah mbah Sujono. Kekurangan penulisan ini, data yang didapatkan belum disertakan sumber terkait seperti penamaan desa tahun 1935.

Dapat disimpulkan ketika menulis sejarah, termasuk sejarah penamaan desa harus tetap mementingkan kelogisan, tidak mudah menerima mentah – mentah.  Hal tersebut bisa dengan melakukan crosscheck.

Jumat, 04 Desember 2020

REVIEW SEJARAH PEDESAAN

 

NAMA : SOFI LAILATUL ZAHRO

NIM      : 180110301029

 

TUGAS REVIEW MATERI

Struktur sosial masyarakat desa di Indonesia dibedakan menjadi dua yaitu :

·         Struktur sosial vertical artinya lapisan atau stratifikasi sosial yang menggambarkan kelompok – kelompok sosial dalam susunan yang bersifat hierarkis

·         Struktur sosial horizontal artinya menggambarkan variasi beragamnya dalam pengelompokan sosial.

Mahasiswa memiliki susunan vertical dan horizontal tergantung posisinya. Jika kita mengikuti metode barat dalam penerapan belajar sejarah maka yang paten menjadi rumus adalah “no document no history”, maka harus ada buktinya. Seperti santet  yang mana ada wujudnya meskipun kasat mata akan tetapi itu benar – benar terjadi. Hal ini tidak dipercayai oleh Orang Barat karena pemikiran mereka lebih ke rasional berbeda dengan Orang Timur yang irasional.

Pola kehidupan masyarakat desa yaitu pola kebudayaan masyarakat desa terhadap berbagai definisi tentang kebudayaan antara lain yaitu way of life yaitu way of thinking, way of feeling, dan way of doing.  Hal tersebut digunakan untuk menganalisis masyarakat pedesaan yang bersifat bersahaja maka diperlukan konsep kebudayaan yang sederhana yaitu kebudayaan dilihat dari aspek kebudayaan dan non kebudayaan (immaterial culture) yaitu kebudayaan dilihat sebagai suatu sistem nilai dan norma adat istiadat yang mengatur perilaku dan peri kehidupan masyarakat desa pola kebudayaan masyarakat desa yang termasuk pola kebudayaan tradisional adalah merupakan produk dari benarnya pengaruh alam terhadap masyarakat yang hidup tergantung pada alam.

Menurut Paul H landis bahwa besar kecilnya pengaruh alam terhadap pola kebudayaan tradisional ditentukan oleh :

1.       Sejauh mana ketergantungan terhadap alam

2.       Tingkat teknologi yang dimiliki

3.       Sistem produksi yang diterapkan

            Alam menjadi komponen yang penting bagi kehidupan manusia seperti konsep Kapitalisme alam diciptakan oleh Tuhan akan tetapi jika alam diciptakan apabila manusia tidak mau bertindak untuk mengolah alam maka tidak akan terjadi kesejahteraan. Berbeda dengan konsep sosialisme Pada pemerintahan Joko Widodo yang harus dibangun adalah desa sehingga ada BUMDes (Badan Usaha Milik Desa). Badan ini adalah badan yang di kelola oleh desa digunakan sebagai alat untuk memajukan desa. Perekonomian di pedesaan biasanya menganut Ekonomi Subsisten yang mana mereka menggunakan ekonomi yang sederhana, dengan anggapan jika sudah makan maka sudah cukup. Masyarakat tidak hanya bergantung pada alam akan tetapi juga pada cuaca sehingga meligitimasi untuk impor karena panen yang dihasilkan kurang memuaskan. Selain alam juga ada tingkat teknologi yang dimiliki yang akan membuat teori mengenai kapitalisme,  yang menganggap teknologi yang mengganti tenaga manusia dalam memproduksi barang.

Ciri – ciri kebudayaan tradisional menurut Paul H Landis adalah :

·         Adaptasi pasif di tingkat invantif  dan invasi rendah

·         Tebalnya rasa kolektifitas

·         Kebiasaan hidup yang lambat

·         Kepercayaan kepada takhayul

·         Kebutuhan materiil yang bersahaja

·         Rendahnya kesadaran terhadap waktu

·         Kecenderungan yang bersifat praktis

·         Standard moral yang kaku

Eksistensi pola kebudayaan tradisional harus memperhitungkan kekuatan – kekuatan di luar desa atau yang disebut sutra desa. Adanya pengaruh  struktur kekuatan tertentu yang mendominasi desa. Contoh : pola kebudayaan desa yang sudah mengalami perubahan. Kerajaan yang tersebat di Nusantara juga mempunyai pengaruh yang menentukan bagi pola kebudayaan masyarakat desa yaitu menyangkut masalah penguasaan tanah, pertanian atau yang disebut dengan sistem feudal. Hal tersebut menjadikan masyrakat desa memiliki ketergantungan yang tinggi kepada kerajaan. Pada daerah di Nusantara yang tidak ada kerajaa, maka sistem kekerabatan memiliki pengaruh yang besar bagi keberadaan pola kebudayaan tradisional. Pola kebudayaan identik dengan sistem kebudayaan salah satunya adalah Suku Osing dan Suku Madura yang merupakan suku sendiri. Tradisi dan hukum adat di Indonesia dibedakan menjadi

1.      Tradisi sinkronik merupakan tradisi yang bersifat situasional.

2.      Tradisi diakronik merupakan tradisi antara tradisi tradisional dan moder yang tidak dapat dipertemukan.

Tradisi dan adat istiadat yang dikonkretkan akan menjadi hukum adat. Hukum adat adalah hukum yang mengacu pada pengertian hukum asli yang berada di berbagai daerah yang ada di Indonesia yang mendapat pengaruh dari luar baik itu Agama Islam, Hindu , Budha maupun pemerintah Kolonial.  Tipe desa menurut integritas masyarakat yaitu

1.      Desa yang berada di luar Jawa, integritasnya didasarkan kepada hubungan darah atau genealogis, maka hukum adatnya memiliki kekuatan mengikat dan pengendali, karena peranan lambang sosial tidak terlalu besar.

2.      Desa di Jawa integritasnya didasarkan pada hubungan pada daerah atau geografis, maka hukum adatnya kurang ada memiliki kekuatan yang mengikat dan pengendali. Hukum adat melemah karena adanya intervensi yang dilancarkan oleh kekuatan – kekuatan di luar desa yaitu kekuatan kerajaan dan pemerintah kolonial.

Kelembagaan masyarakat desa lahir sebagai respon terhadap kebutuhan masyarakat sehingga bila  ada kebutuhan baru maka lahir lembaga – lembaga desa yaitu lembaga baru yang lembaga lama menjadi bergeser.

1.      Lembaga gotong royong atau sambatan, yang sebenarnya sambatan ini dadasarkan kepada barter lembaga kerja lembaga ini  yang bergeser kepada sistem upah.

2.      Sistem sakap atau bagi hasil yang bergeser menjadi sewa.

3.      Gotong royong yang dilandasi partisipasi berubah menjadi kerja bakti yang dilandasi mobilisasi (berupa undangan resmi atau tidak).

Lembaga sosial dan lembaga pemerintahan desa adalah lembaga sebagai sistem atau komplek nilai dan norma tata kelakuan yaitu berpusat disekitar kepentingan tujuan tertentu seperti nilai pokok , sifat permanen, sifat keterkaitan, dan  penerimaan terhadap ide – ide. Lalu lembaga – lembaga sosial yang lain yang lama ataupun baru yaitu sesuai dengan tuntutan perkembangan tetapi sekarang bukan dalam bentuk lembaga – lembaga akan tetapi berupa bada organisasi yang berkaitan dengan progam pembangunan tertentu. Contoh Gapoktan atau Gabungan Kelompok tani.